Sign in

Sign up

  • Home
  • Lifestyle
  • Sepeda-Sepeda ‘Butut’ Ini Melahap Ratusan Kilometer untuk Mudik

Sepeda-Sepeda ‘Butut’ Ini Melahap Ratusan Kilometer untuk Mudik

By on June 14, 2018 0 6 Views

Devan saat bersiap meninggalkan Jakarta, dalam perjalanan mudik naik sepeda butut menuju Tasikmalaya. (Foto: AN Uyung Pramudiarja/<a href=Datanglagi.com)” title=”Devan saat bersiap meninggalkan Jakarta, dalam perjalanan mudik naik sepeda butut menuju Tasikmalaya. (Foto: AN Uyung Pramudiarja/Datanglagi.com)” class=””/>
Jakarta – Hobi gowes nyaris identik dengan sepeda harga belasan atau bahkan puluhan juta rupiah. Banyak yang akhirnya tidak percaya diri untuk mengayuh pedal hanya karena sepedanya tidak menggunakan frame karbon atau titanium. Haruskah demikian?

Ialah Devan, seorang ‘garis keras’ yang tahun ini kembali mengayuh pedalnya untuk mudik dari Tangerang ke kampung halamannya di Tasikmalaya. Jarak lebih dari 300 km dengan kontur cenderung menanjak itu ditempuhnya bukan dengan sepeda mahal, melainkan dengan sepeda butut yang dibelinya beberapa waktu lalu.

“Ini dulu beli bekas, berapa ya? Sekitar 700 (ribu rupiah) kalau nggak salah,” kata Devan, ditemui Datanglagi.com saat hendak bertolak dari Jakarta, usai pelepasan Gowes Mudik 2018 di Korlantas Polri, Jakarta Selatan, Jumat (8/6/2018) lalu.

Diakuinya, stigma bahwa gowes adalah hobi mahal juga pernah ia alami ketika masih bermain dengan ‘sepeda tanah’. Di beberapa komunitas, sepeda seolah ada kastanya sehingga pemula yang ingin bergabung kadang kurang percaya diri jika sepedanya termasuk kategori ‘murahan’.

Kini, Devan memilih apa adanya. Sepeda, baginya tidak harus mahal yang penting fungsional. Sepeda gunung dengan rangka atau frame baja (steel) yang diperbaikinya sendiri itu, terbukti cukup tangguh melahap rute menanjak menuju Tasikmalaya via Bandung.

Devan tengah istirahat dalam perjalanan mudiknya dari Tangerang ke Tasikmalaya.Devan tengah istirahat dalam perjalanan mudiknya dari Tangerang ke Tasikmalaya. Foto: Wisma Putra

Prinsip serupa juga dianut oleh Salikun, pemudik rute Jakarta-Kebumen yang juga memilih pulang menempuh jarak hampir 500 km dengan menggunakan sepeda bututnya. Sepeda mini warna hijau yang dikayuhnya, konon dibeli dengan harga sekitar Rp 120 ribu saja.

“Itu murah saya cuma 120-an, malah ditawar orang 2 juta sepeda saya,” kata pria berusia 53 tahun yang sudah sejak 2012 selalu memilih mudik dengan mengayuh sepeda bututnya tersebut.

Salikun dengan sepeda bututnya melahap jalur Jakarta-Kebumen di musim mudik tahun ini.Salikun dengan sepeda bututnya melahap jalur Jakarta-Kebumen di musim mudik tahun ini. Foto: Widiya Wiyanti

Poetoet Soedarjanto, ketua komunitas Bike to Work (B2W) Indonesia mengakui jenis sepeda yang digunakan para peserta mudik gowes tahun ini sangat beragam. Ada yang menggunakan mountain bike atau sepeda gunung, folding bike atau sepeda lipat (seli), dan ia sendiri menggunakan jenis sepeda dengan rangka bambu atau bamboo bike.

“Yang berangkat tanggal 11 Juni, Jakarta-Madiun itu pakai road bike, biasanya 3 hari dia, Mas Suyadi, sudah 13 kali kalau nggak salah gowes mudiknya,” kata Poetoet.

Apapun jenisnya, sepeda bagaimanapun hanya sebuah sarana untuk bugar. Yang bikin sehat tentu bukan harganya saja, tetapi niat dan komitmen menggunakannya untuk olahraga secara teratur.

(up/up)

Situs Judi Online